2008 adalah tahun yang paling ditunggu dan bersejarah bagi Converse Inc. Karena di tahun ini, merek dunia yang popular dan ikonik ini, genap berusia 100 tahun. Lalu sebenarnya apa itu Converse ?
"Converse adalah sebuah perusahaan alas kaki yang pertama kali konsisten di bidang olahraga dan rock and roll," kata Jack Boys, Converse CEO Internasional.
Yup.... semua diawali dari penemuan sepatu Allstar di tahun 1917, lalu lahirnya team basket Afrika-Amerika di tahun 1920 dan 1930, hingga lahirnya kebudayaan rock and roll yang notabene semua personilnya menggunakan Converse sebagai alas kaki menuju kemashyuran.
Dan sejarah tentang converse serta keoriginalitas tokoh-tokoh yang menggunakannya diwujudkan dalam wujud produk, promosi, display toko dan komponen on-line lainnya di sepanjang tahun.
Sekarang, semua hal tersebut diawali dengan momentum yang menggembirakan dengan kelahiran kembali dalam performa olahraga basket. Dimana Converse mengembangkan kolaborasi untuk produk alas kaki dengan John Varvatos, salah satu dari desainer fashion terkenal di dunia untuk menciptakan koleksi converse pilihan untuk pria dan wanita yang disebut Converse oleh John Varvatos di musim gugur 2006.
Kini di usianya yang 100 tahun, Converse terus memantapkan posisi sebagai brand sepatu lifestyle nomor satu di dunia. Sederet program pun dirilis di sepanjang tahun 2008.
Lihat saja Converse 1HUND(RED) Artist, program global dalam sebuah proyek desain untuk merayakan dan meneruskan program dukungan Converse terhadap (PRODUCT) RED di sepanjang tahun 2008.
Program ini diikuti oleh kumpulan desainer di seluruh dunia, yang berasal dari berbagai macam profesi dan reputasi dari pelajar seni sampai desainer profesional. Selain itu juga diikuti indie band, sampai penyanyi rock dan desainer grafis serta desainer fashion.
"Converse 1HUND(RED) artist memberikan kesempatan kepada mereka untuk mewujudkan karya kreatif mereka untuk menciptakan rangkaian koleksi sepatu Converse (PRODUCT)RED dengan tujuan untuk merayakan tradisi dan mendukung program global dalam melawan AIDS, tuberkolosis, dan malaria," kata Brand Manager Converse Indonesia, Anastasia Irene kepada rileks.com, Sabtu, 29/3-2008.
Kali ini, kata wanita yang kerap disapa Irene menambahkan, even Converse Century ini juga akan diwarnai dengan peluncuran buku sejarah untuk menampilkan koleksi terbaik dari merek Converse di sepanjang 100 tahun ini.
"Rangkaian cerita ini turut menyampaikan koleksi Rosie di tahun 1940-an, dan referensi dan keikutsertaan dalam perang dunia kedua. Buffalo Check Plaid dan Ombre Plaid mengingatkan kita kembali kepada tren yang populer di tahun 1950-an, sedangkan koleksi Wrestling dan Scout menandakan keikutsertaan Converse dalam kedua aktivitas tersebut," paparnya.
Mengenai acara di Indonesia sendiri, sambungnya, Converse baru-baru ini mengadakan program "Kenapa Gue Suka Converse", sebuah program valentine yang bertujuan untuk mengumpulkan alasan-alasan khusus mengapa konsumen menyukai Converse.
"Bertepatan dengan acara perkenalan toko baru dan program Converse Century, kami membagi-bagikan hadiah buat 100 orang pertama yang datang dan menggunakan produk Converse," pungkas Irene sembari menginformasikan penjualan Converse Indonesia dan Jepang menduduki peringkat teratas di Asia Pacific.
Selasa, 16 Maret 2010
nike USA
Nike, awalnya dikenal sebagai Blue Ribbon Sports, didirikan oleh atlet trek Philip Knight dan pelatihnya, Bill Bowerman dari University of Oregon pada Januari 1964. Awalnya perusahaan beroperasi sebagai distributor untuk pembuat sepatu Jepang Onitsuka Tiger.
Laba perusahaan tumbuh dengan cepat, dan pada tahun 1966, BRS membuka toko ritel pertama, terletak di Pico Boulevard di Santa Monica, California. Pada 1971, hubungan antara BRS dan Onitsuka Tiger sudah mendekati akhir, dan BRS siap untuk memulai perusahaan alas kaki sendiri. Sepatu pertama yang dijual kepada publik adalah sepatu sepak bola bernama "Nike", yang dirilis pada musim panas 1971.
Pada Februari 1972, BRS memperkenalkan merk pertama sepatu Nike, dengan nama Nike berasal dari dewi kemenangan Yunani. Pada tahun 1978, BRS, Inc itu sendiri secara resmi berganti nama menjadi Nike, Inc. Dimulai dengan Ilie Năstase, atlet profesional pertama untuk kontrak dengan BRS/Nike, sponsor dari atlet menjadi alat pemasaran utama bagi perusahaan yang berkembang pesat.
Sekarang mereka memiliki sepatu terbaik di saat itu, dan mereka perlu mempromosikannya, jadi Nike mulai mensponsori atlet. Nike memutuskan untuk mensponsori John McEnroe, seorang petenis yang menghasilkan banyak perhatian ketika ia bermain karena dia akan terus-menerus menyumpah di depan wasit.
Pada 1979, Nike adalah sepatu lari paling populer di negara-negara bagian. Dan sekarang Nike mulai menjual lebih dari sepatu, mereka mulai menjual Nike pakaian dan peralatan olahraga bagi kebanyakan olahraga.
Ada satu hal yang mengganggu Nike, yaitu Reebok. Reebok akhirnya melampaui penjualan sepatu Nike, tapi Nike kembali dengan memasukkan sepatu khusus untuk setiap olahraga dan kegiatan.
Terobosan terbesar Nike adalah Michael Jordan, yang ditandatangani langsung dari University of North Carolina. Inilah yang membuat Nike menang dari kompetisi dengan Reebok. Meski Michael Jordan itu terkenal, ia bukan pilihan pertama Phil Knight. Nike sedang berusaha untuk mendapatkan Larry Bird dan Magic Johnson, 2 dari atlet yang paling populer pada saat itu.
Pada tahun 1980, Nike telah mencapai 50% pangsa pasar di Amerika Serikat pasar sepatu atletik, dan perusahaan go public pada bulan Desember tahun itu. Pertumbuhannya adalah karena sebagian besar untuk iklan 'word-of-foot' (mengutip sebuah iklan cetak Nike dari akhir 1970-an), daripada iklan televisi. Iklan televisi nasional pertama Nike berlangsung pada bulan Oktober 1982 selama siaran dari New York Marathon. Iklan diciptakan oleh biro iklan Wieden + Kennedy, yang telah terbentuk beberapa bulan sebelumnya pada April 1982.
Bersama-sama, Nike dan Wieden + Kennedy telah menciptakan banyak iklan cetak dan televisi yg tak terhapuskan dan terus menjadi agen utama Nike saat ini. Dan Wieden lah yang menciptakan slogan terkenal "Just Do It" untuk kampanye iklan Nike tahun 1988, yang dipilih oleh Advertising Age sebagai salah satu top 5 slogan iklan di abad 20, dan kampanye itu telah telah diabadikan dalam Smithsonian Institution.
The Swoosh
"Swoosh" adalah sebuah desain yang diciptakan pada tahun 1971 oleh Carolyn Davidson, seorang mahasiswa desain grafis di Portland State University. Dia bertemu Phil Knight ketika ia sedang mengajar kelas akuntansi dan ia mulai melakukan beberapa pekerjaan freelance untuk perusahaannya, Blue Ribbon Sports (BRS). Logo Nike "Swoosh" mewakili sayap di patung Dewi kemenangan Yunani yg terkenal, Nike, yang merupakan sumber inspirasi bagi banyak pejuang besar dan berani.
BRS membutuhkan brand baru untuk untuk bersiap-siap memperkenalkan lini baru dari alas kaki atletik mereka pada tahun 1972. Knight mendekati Davidson untuk ide-ide desain, dan dia setuju untuk memberikan kepada mereka. Pada Juni 1971, Davidson menyajikan sejumlah pilihan desain Knight dan eksekutif BRS lain, dan mereka akhirnya memilih merek global sekarang dikenal sebagai Swoosh. Davidson mengajukan tagihan sebesar $ 35 untuk pekerjaannya.
Sepatu lari pertama yg menyandang logo Swoosh diperkenalkan di US Track and Field Olympic Trials di Eugene, Oregon, pada Juni 1972. Sampai hari ini Nike masih terus menggunakan merek ini.
Laba perusahaan tumbuh dengan cepat, dan pada tahun 1966, BRS membuka toko ritel pertama, terletak di Pico Boulevard di Santa Monica, California. Pada 1971, hubungan antara BRS dan Onitsuka Tiger sudah mendekati akhir, dan BRS siap untuk memulai perusahaan alas kaki sendiri. Sepatu pertama yang dijual kepada publik adalah sepatu sepak bola bernama "Nike", yang dirilis pada musim panas 1971.
Pada Februari 1972, BRS memperkenalkan merk pertama sepatu Nike, dengan nama Nike berasal dari dewi kemenangan Yunani. Pada tahun 1978, BRS, Inc itu sendiri secara resmi berganti nama menjadi Nike, Inc. Dimulai dengan Ilie Năstase, atlet profesional pertama untuk kontrak dengan BRS/Nike, sponsor dari atlet menjadi alat pemasaran utama bagi perusahaan yang berkembang pesat.
Sekarang mereka memiliki sepatu terbaik di saat itu, dan mereka perlu mempromosikannya, jadi Nike mulai mensponsori atlet. Nike memutuskan untuk mensponsori John McEnroe, seorang petenis yang menghasilkan banyak perhatian ketika ia bermain karena dia akan terus-menerus menyumpah di depan wasit.
Pada 1979, Nike adalah sepatu lari paling populer di negara-negara bagian. Dan sekarang Nike mulai menjual lebih dari sepatu, mereka mulai menjual Nike pakaian dan peralatan olahraga bagi kebanyakan olahraga.
Ada satu hal yang mengganggu Nike, yaitu Reebok. Reebok akhirnya melampaui penjualan sepatu Nike, tapi Nike kembali dengan memasukkan sepatu khusus untuk setiap olahraga dan kegiatan.
Terobosan terbesar Nike adalah Michael Jordan, yang ditandatangani langsung dari University of North Carolina. Inilah yang membuat Nike menang dari kompetisi dengan Reebok. Meski Michael Jordan itu terkenal, ia bukan pilihan pertama Phil Knight. Nike sedang berusaha untuk mendapatkan Larry Bird dan Magic Johnson, 2 dari atlet yang paling populer pada saat itu.
Pada tahun 1980, Nike telah mencapai 50% pangsa pasar di Amerika Serikat pasar sepatu atletik, dan perusahaan go public pada bulan Desember tahun itu. Pertumbuhannya adalah karena sebagian besar untuk iklan 'word-of-foot' (mengutip sebuah iklan cetak Nike dari akhir 1970-an), daripada iklan televisi. Iklan televisi nasional pertama Nike berlangsung pada bulan Oktober 1982 selama siaran dari New York Marathon. Iklan diciptakan oleh biro iklan Wieden + Kennedy, yang telah terbentuk beberapa bulan sebelumnya pada April 1982.
Bersama-sama, Nike dan Wieden + Kennedy telah menciptakan banyak iklan cetak dan televisi yg tak terhapuskan dan terus menjadi agen utama Nike saat ini. Dan Wieden lah yang menciptakan slogan terkenal "Just Do It" untuk kampanye iklan Nike tahun 1988, yang dipilih oleh Advertising Age sebagai salah satu top 5 slogan iklan di abad 20, dan kampanye itu telah telah diabadikan dalam Smithsonian Institution.
The Swoosh
"Swoosh" adalah sebuah desain yang diciptakan pada tahun 1971 oleh Carolyn Davidson, seorang mahasiswa desain grafis di Portland State University. Dia bertemu Phil Knight ketika ia sedang mengajar kelas akuntansi dan ia mulai melakukan beberapa pekerjaan freelance untuk perusahaannya, Blue Ribbon Sports (BRS). Logo Nike "Swoosh" mewakili sayap di patung Dewi kemenangan Yunani yg terkenal, Nike, yang merupakan sumber inspirasi bagi banyak pejuang besar dan berani.
BRS membutuhkan brand baru untuk untuk bersiap-siap memperkenalkan lini baru dari alas kaki atletik mereka pada tahun 1972. Knight mendekati Davidson untuk ide-ide desain, dan dia setuju untuk memberikan kepada mereka. Pada Juni 1971, Davidson menyajikan sejumlah pilihan desain Knight dan eksekutif BRS lain, dan mereka akhirnya memilih merek global sekarang dikenal sebagai Swoosh. Davidson mengajukan tagihan sebesar $ 35 untuk pekerjaannya.
Sepatu lari pertama yg menyandang logo Swoosh diperkenalkan di US Track and Field Olympic Trials di Eugene, Oregon, pada Juni 1972. Sampai hari ini Nike masih terus menggunakan merek ini.
adidas
adidas
Didirikan di Herzogenaurach, Jerman di tahun 1920 oleh dua bersaudara Adolf (Adi) Dassler dan Rudolph Dassler, pada awalnya perusahaan ini hanya memproduksi selop. Pada suatu hari di tahun 1925, Adi berhasil merancang sepasang sepatu olahraga, dan sejak itu usaha perbaikan dan pengembangan dalam bidang sepatu pun terus dilakukan. Setelah berbagai inovasi yang mereka lakukan, pada tahun 1927-an, adidas sudah berhasil merancang sepatu khusus untuk berbagai keperluan olahraga, dan pada 1928 mereka memberikan sepatu mereka secara gratis kepada atlet-atlet yang berpartisipasi pada Olimpiade Amsterdam. Didukung oleh kemajuan bidang penyiaran dan pertelevisian, adidas menikmati keuntungan dari event olahraga seperti Olimpiade atau sepakbola, karena logo 3 strip mereka mudah dikenali dari jauh.
Walaupun berbagai kemajuan yang diraih, pada 1948 konflik antara Dassler bersaudara berakibat pada pecahnya perusahaan mereka. Adi Dassler menjalankan sendiri perusahaan, mengambil nama kecilnya “Adi” dan mengkombinasikannya dengan potongan nama belakangnya sehingga menjadi “adidas”, ia pun mendafarkan logo 3 strip sebagai trademark dari adidas. Sedangkan saudaranya Rudolph berpindah ke bagian lain dari kota itu dan mendirikan perusahaan olahraga miliknya sendiri, Puma.
Pada tahun 1971 Muhammad Ali dan Joe Frazier yang menjadi icon olahraga tinju pada saat itu, sudah menggunakan produk adidas. Pada Olimpiade Munich 1972 1.164 dari 1.490 atlet internasional menggunakan adidas. Sehingga pada tahun 70-an adidas mencapai masa jayanya.
Setelah krisis pada awal 80-an, terutama karena berjayanya Nike di pasar internasional, adidas berhasil mengembalikan pamornya pada tahun 1986 ketika Run D.M.C, sebuah grup rap dari New York, membuat lagu yang berjudul “My Adidas”, dan sekaligus mempopulerkan sepatu adidas yang mereka pakai tanpa menggunakan tali. Hal tersebut menjadi gaya tersendiri yang banyak ditiru oleh fans-fans mereka.
Pada dekade 90-an terutama di AS dan Eropa berkembang pikiran bahwa generasi muda cenderung menghindari apapun yang orang tua mereka pakai, termasuk dalam urusan sepatu. Mereka menghindari pemakaian nike dan reebok, yang dulu dipakai oleh orang tua mereka. Sehingga barang-barang produksi adidas (sepatu, jaket,…) yang sudah berumur 20 tahun-pun tiba-tiba menjadi barang koleksi yang mahal harganya dan dicari-cari oleh banyak orang (coba deh liat-liat barang adidas vintage di ebay). Hal ini pun dimanfaatkan oleh adidas untuk memproduksi dan mengeluarkan kembali (re-issue) beberapa model sepatu populernya (seperti adidas rom, rekord, athen, dublin,..). Hal ini mengangkat status adidas itu sendiri, dari sekedar produk olahraga menjadi semacam lambang gaya hidup yang baru.
Didirikan di Herzogenaurach, Jerman di tahun 1920 oleh dua bersaudara Adolf (Adi) Dassler dan Rudolph Dassler, pada awalnya perusahaan ini hanya memproduksi selop. Pada suatu hari di tahun 1925, Adi berhasil merancang sepasang sepatu olahraga, dan sejak itu usaha perbaikan dan pengembangan dalam bidang sepatu pun terus dilakukan. Setelah berbagai inovasi yang mereka lakukan, pada tahun 1927-an, adidas sudah berhasil merancang sepatu khusus untuk berbagai keperluan olahraga, dan pada 1928 mereka memberikan sepatu mereka secara gratis kepada atlet-atlet yang berpartisipasi pada Olimpiade Amsterdam. Didukung oleh kemajuan bidang penyiaran dan pertelevisian, adidas menikmati keuntungan dari event olahraga seperti Olimpiade atau sepakbola, karena logo 3 strip mereka mudah dikenali dari jauh.
Walaupun berbagai kemajuan yang diraih, pada 1948 konflik antara Dassler bersaudara berakibat pada pecahnya perusahaan mereka. Adi Dassler menjalankan sendiri perusahaan, mengambil nama kecilnya “Adi” dan mengkombinasikannya dengan potongan nama belakangnya sehingga menjadi “adidas”, ia pun mendafarkan logo 3 strip sebagai trademark dari adidas. Sedangkan saudaranya Rudolph berpindah ke bagian lain dari kota itu dan mendirikan perusahaan olahraga miliknya sendiri, Puma.
Pada tahun 1971 Muhammad Ali dan Joe Frazier yang menjadi icon olahraga tinju pada saat itu, sudah menggunakan produk adidas. Pada Olimpiade Munich 1972 1.164 dari 1.490 atlet internasional menggunakan adidas. Sehingga pada tahun 70-an adidas mencapai masa jayanya.
Setelah krisis pada awal 80-an, terutama karena berjayanya Nike di pasar internasional, adidas berhasil mengembalikan pamornya pada tahun 1986 ketika Run D.M.C, sebuah grup rap dari New York, membuat lagu yang berjudul “My Adidas”, dan sekaligus mempopulerkan sepatu adidas yang mereka pakai tanpa menggunakan tali. Hal tersebut menjadi gaya tersendiri yang banyak ditiru oleh fans-fans mereka.
Pada dekade 90-an terutama di AS dan Eropa berkembang pikiran bahwa generasi muda cenderung menghindari apapun yang orang tua mereka pakai, termasuk dalam urusan sepatu. Mereka menghindari pemakaian nike dan reebok, yang dulu dipakai oleh orang tua mereka. Sehingga barang-barang produksi adidas (sepatu, jaket,…) yang sudah berumur 20 tahun-pun tiba-tiba menjadi barang koleksi yang mahal harganya dan dicari-cari oleh banyak orang (coba deh liat-liat barang adidas vintage di ebay). Hal ini pun dimanfaatkan oleh adidas untuk memproduksi dan mengeluarkan kembali (re-issue) beberapa model sepatu populernya (seperti adidas rom, rekord, athen, dublin,..). Hal ini mengangkat status adidas itu sendiri, dari sekedar produk olahraga menjadi semacam lambang gaya hidup yang baru.
Senin, 15 Maret 2010
21 jakarta
The Jakarta Post, Jakarta
“Ada suatu masa ketika tempat itu penuh sesak ini sehari-hari,” Akiat, seorang pria cuaca berusia lima puluhan kata, ketika ia memandang yang remang-remang ruang tunggu Prima Teater, terhindar dari kesedihan lengkap dengan beberapa pasangan duduk di kursi usang.
Ketika matahari tenggelam, sore sinar yang bersinar melalui jendela-jendela lebar untuk mengungkapkan kesepian dalam teater, yang terletak di lantai tiga pasar tradisional di Slipi, Jakarta Barat.
Tidak ada yang tersisa di teater, kecuali beberapa kursi kosong dan berdebu panel, namun beberapa pengingat teater kemuliaan hari tetap utuh.
Slick neon menunjukkan tanda-tanda berwarna pelanggan untuk mereka teater dan modern “sekarang bermain” bagian layar tampak aneh mirip dengan yang ditemukan di Cinema 21’s yang mendominasi pasar negara itu.
“Beberapa tahun yang lalu, teater ini juga merupakan bagian dari Cinema 21 rantai,” kata Akiat. “Tapi karena ada Cinema 21 lainnya hanya beberapa meter jauhnya di mal, mereka memutuskan untuk membiarkan ini pergi.”
Karena cengkeraman ke masa lalu, apa yang tertinggal hanyalah karikatur yang menyedihkan dari Teater’s masa kejayaan Prima - staf perempuan masih ware yang “21″ batik seragam, sekalipun tidak ada pelanggan.
Tetapi Prima Theater, salah satu yang terakhir meninggalkan bioskop independen di Jakarta, adalah untuk memiliki adalah penyaringan terakhir. “Tempat ini akan segera ditutup,” kata Akiat, “The teater kontrak dengan PD Pasar Jaya * pasar kota operator * akan berakhir tahun depan dan tidak ada tanda-tanda pembaharuan.”
Akiat telah bekerja untuk bioskop selama lebih dari dua puluh tahun. Beberapa teater, seperti Nusantara dan Nirwana, manfaat dari jasanya. Tapi seperti Prima, mereka juga telah melihat hari yang lebih baik.
“Teater Nusantara di Jatinegara ditutup sekarang,” katanya, “itu adalah dikelola dengan buruk setelah aku pergi dan tidak mampu bersaing dengan bioskop besar.”
Banyak bioskop telah bertemu dengan nasib yang sama. Rivoli Theater di Kramat, Jakarta Pusat, mengakhiri karier sebagai pembawa rol film Bollywood pada 1990-an, setelah 40 tahun beroperasi. Globe teater di Pasar Baru, Orion di Roxy, dan Djaja di Jatinegara, Jakarta Timur, hanya beberapa orang lain yang telah menutup pintu mereka dalam beberapa tahun terakhir.
Bahkan Guntur Teater bersejarah di Jakarta Selatan, dengan sekali arsitektur art deco yang bermartabat, kini tandus dan sepi, meskipun rencana oleh otoritas lokal untuk mengubahnya menjadi museum film.
Hamim, yang pernah bekerja di sekarang-tidak berfungsi Viva Teater di Tebet, mengingat kematian lambat tapi pasti tidak hanya Viva tetapi Wira Teater dan Teater Tebet, yang pernah bersaing berdampingan antusias penonton.
“Waktu itu, tahun 1980-an, ada begitu banyak orang antri untuk melihat film, ratusan dari mereka,” kenang dia. “Bos saya yang pertama mendirikan Wira Theater di tahun 1960-an, lalu Tebet dan Viva diikuti, karena kami tidak punya cukup ruang untuk mengakomodasi semua penonton bioskop.”
Teater manfaat besar dari film lokal saat itu, Hamim berkata, “Aku ingat ketika Rhoma Irama dan film Rano Karno pertama kali keluar, orang berkumpul untuk melihat film itu.”
Tapi selama puluhan tahun mereka jatuh satu per satu. “Tebet dan Wira adalah yang pertama kali pergi, kira-kira lima tahun yang lalu,” Hamim menjelaskan. “Kemudian setelah bertahun-tahun hanya memiliki lima atau enam hari pemirsa, Viva akhirnya menyerah dan ditutup dua tahun yang lalu.”
Teater, yang pernah menghibur sekitar 1.800 penonton sehari, akan segera dihancurkan untuk jalan bagi gedung kantor baru.
Hamim majikan dan pemilik properti, Namun masih menyimpan Grand Theater di Senen, Jakarta Pusat, hidup.
Namun, kondisi tempat tidak mencerminkan nama-bau jamur dan kelembaban merembes dari dalam, tolak-menolak semua orang, kecuali beberapa orang dengan kejauhan tampak dan perempuan setengah baya make-up tebal berlapis.
Tapi untuk Rp 5.000, siapa pun dapat melihat film di Grand sebesar Rp 10.000 kurang dari mereka bisa di Cinema 21. Di dinding ruang tunggu, di samping menuliskan “sekarang bermain” tanda, tergantung poster kecil yang menggambarkan adegan erotis dari sebuah film Cina.
Tepat di atas Grand Theater adalah Mulia Agung, atau “Besar dan Mulia” Teater, dengan ruang tunggu yang gelap, rusak cermin dan lama-sejak-ubin berkedip-kedip pudar.
“Kadang-kadang kita hanya memiliki 20 pelanggan per hari,” Parmin, penjaga pintu di Grand Theater, kata. “Jika hanya ada beberapa orang di salah satu dari dua studio, kami hanya memberitahu mereka untuk bergabung dengan penonton yang lain. Saya tidak berpikir suatu yang benar-benar mengganggu tentang film sih,” katanya, mengisyaratkan di bioskop’s baru ditemukan digunakan.
Ketika ia robekan seorang pria setengah baya tiket, yang sangat dibuat-buat perempuan cepat mengikuti di belakang, Parmin tersenyum mengerti. “Begitulah sekarang, kurasa.”
Kata Akiat adegan seperti itu tidak asing kepadanya ketika ia bekerja di Nirwana Theater di Pasar Minggu. “Semua orang perempuan, semua hal itu terjadi di dalam studio,” katanya, memutar matanya, “Aku hanya bertahan satu minggu di sana.
“Saya tidak tahan, walaupun ada lebih banyak orang di sana dibandingkan dengan di sini,” kata Akiat, “Jadi aku datang kembali bekerja di sini.” Namun, ia mengatakan ia lelah sekarang, dan begitu juga bisnis. “Aku ingin pensiun segera,” katanya, “Sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan menjalankan teater yang independen, dan saya pikir sudah waktunya untuk berhenti berperang.”
“Ada suatu masa ketika tempat itu penuh sesak ini sehari-hari,” Akiat, seorang pria cuaca berusia lima puluhan kata, ketika ia memandang yang remang-remang ruang tunggu Prima Teater, terhindar dari kesedihan lengkap dengan beberapa pasangan duduk di kursi usang.
Ketika matahari tenggelam, sore sinar yang bersinar melalui jendela-jendela lebar untuk mengungkapkan kesepian dalam teater, yang terletak di lantai tiga pasar tradisional di Slipi, Jakarta Barat.
Tidak ada yang tersisa di teater, kecuali beberapa kursi kosong dan berdebu panel, namun beberapa pengingat teater kemuliaan hari tetap utuh.
Slick neon menunjukkan tanda-tanda berwarna pelanggan untuk mereka teater dan modern “sekarang bermain” bagian layar tampak aneh mirip dengan yang ditemukan di Cinema 21’s yang mendominasi pasar negara itu.
“Beberapa tahun yang lalu, teater ini juga merupakan bagian dari Cinema 21 rantai,” kata Akiat. “Tapi karena ada Cinema 21 lainnya hanya beberapa meter jauhnya di mal, mereka memutuskan untuk membiarkan ini pergi.”
Karena cengkeraman ke masa lalu, apa yang tertinggal hanyalah karikatur yang menyedihkan dari Teater’s masa kejayaan Prima - staf perempuan masih ware yang “21″ batik seragam, sekalipun tidak ada pelanggan.
Tetapi Prima Theater, salah satu yang terakhir meninggalkan bioskop independen di Jakarta, adalah untuk memiliki adalah penyaringan terakhir. “Tempat ini akan segera ditutup,” kata Akiat, “The teater kontrak dengan PD Pasar Jaya * pasar kota operator * akan berakhir tahun depan dan tidak ada tanda-tanda pembaharuan.”
Akiat telah bekerja untuk bioskop selama lebih dari dua puluh tahun. Beberapa teater, seperti Nusantara dan Nirwana, manfaat dari jasanya. Tapi seperti Prima, mereka juga telah melihat hari yang lebih baik.
“Teater Nusantara di Jatinegara ditutup sekarang,” katanya, “itu adalah dikelola dengan buruk setelah aku pergi dan tidak mampu bersaing dengan bioskop besar.”
Banyak bioskop telah bertemu dengan nasib yang sama. Rivoli Theater di Kramat, Jakarta Pusat, mengakhiri karier sebagai pembawa rol film Bollywood pada 1990-an, setelah 40 tahun beroperasi. Globe teater di Pasar Baru, Orion di Roxy, dan Djaja di Jatinegara, Jakarta Timur, hanya beberapa orang lain yang telah menutup pintu mereka dalam beberapa tahun terakhir.
Bahkan Guntur Teater bersejarah di Jakarta Selatan, dengan sekali arsitektur art deco yang bermartabat, kini tandus dan sepi, meskipun rencana oleh otoritas lokal untuk mengubahnya menjadi museum film.
Hamim, yang pernah bekerja di sekarang-tidak berfungsi Viva Teater di Tebet, mengingat kematian lambat tapi pasti tidak hanya Viva tetapi Wira Teater dan Teater Tebet, yang pernah bersaing berdampingan antusias penonton.
“Waktu itu, tahun 1980-an, ada begitu banyak orang antri untuk melihat film, ratusan dari mereka,” kenang dia. “Bos saya yang pertama mendirikan Wira Theater di tahun 1960-an, lalu Tebet dan Viva diikuti, karena kami tidak punya cukup ruang untuk mengakomodasi semua penonton bioskop.”
Teater manfaat besar dari film lokal saat itu, Hamim berkata, “Aku ingat ketika Rhoma Irama dan film Rano Karno pertama kali keluar, orang berkumpul untuk melihat film itu.”
Tapi selama puluhan tahun mereka jatuh satu per satu. “Tebet dan Wira adalah yang pertama kali pergi, kira-kira lima tahun yang lalu,” Hamim menjelaskan. “Kemudian setelah bertahun-tahun hanya memiliki lima atau enam hari pemirsa, Viva akhirnya menyerah dan ditutup dua tahun yang lalu.”
Teater, yang pernah menghibur sekitar 1.800 penonton sehari, akan segera dihancurkan untuk jalan bagi gedung kantor baru.
Hamim majikan dan pemilik properti, Namun masih menyimpan Grand Theater di Senen, Jakarta Pusat, hidup.
Namun, kondisi tempat tidak mencerminkan nama-bau jamur dan kelembaban merembes dari dalam, tolak-menolak semua orang, kecuali beberapa orang dengan kejauhan tampak dan perempuan setengah baya make-up tebal berlapis.
Tapi untuk Rp 5.000, siapa pun dapat melihat film di Grand sebesar Rp 10.000 kurang dari mereka bisa di Cinema 21. Di dinding ruang tunggu, di samping menuliskan “sekarang bermain” tanda, tergantung poster kecil yang menggambarkan adegan erotis dari sebuah film Cina.
Tepat di atas Grand Theater adalah Mulia Agung, atau “Besar dan Mulia” Teater, dengan ruang tunggu yang gelap, rusak cermin dan lama-sejak-ubin berkedip-kedip pudar.
“Kadang-kadang kita hanya memiliki 20 pelanggan per hari,” Parmin, penjaga pintu di Grand Theater, kata. “Jika hanya ada beberapa orang di salah satu dari dua studio, kami hanya memberitahu mereka untuk bergabung dengan penonton yang lain. Saya tidak berpikir suatu yang benar-benar mengganggu tentang film sih,” katanya, mengisyaratkan di bioskop’s baru ditemukan digunakan.
Ketika ia robekan seorang pria setengah baya tiket, yang sangat dibuat-buat perempuan cepat mengikuti di belakang, Parmin tersenyum mengerti. “Begitulah sekarang, kurasa.”
Kata Akiat adegan seperti itu tidak asing kepadanya ketika ia bekerja di Nirwana Theater di Pasar Minggu. “Semua orang perempuan, semua hal itu terjadi di dalam studio,” katanya, memutar matanya, “Aku hanya bertahan satu minggu di sana.
“Saya tidak tahan, walaupun ada lebih banyak orang di sana dibandingkan dengan di sini,” kata Akiat, “Jadi aku datang kembali bekerja di sini.” Namun, ia mengatakan ia lelah sekarang, dan begitu juga bisnis. “Aku ingin pensiun segera,” katanya, “Sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan menjalankan teater yang independen, dan saya pikir sudah waktunya untuk berhenti berperang.”
superman
Category: Movies
Genre: Drama
Eh Man, si Jason itu sebenarnya anak elo!
Begitu kira-kira bisik Lois Lane (Kate Bosworth) saat Superman (Brandon Routh) mengalami koma di RSU Metropolis (Superman Returns, 2006).
Gara-gara pernyataan itulah nampaknya Superman akhirnya sadar dan kabur dari RS untuk datang ke rumah Lois untuk menemui si Jason White (Tristan Lake Leabu) yang saat itu sudah tertidur, dan membisikinya dengan kata-kata yg pernah diucapkan ayahnya Jor-El (Marlon Brando) saat mengirimnya ke bumi.
Padahal kalau iseng ditelaah, sebenarnya Jason itu khan anak hasil hubungan gelap (baca: tersembunyi) antara dua insan beda dunia itu. Kenapa tersembunyi, lantaran Lois tidak mengumumkan siapa ayah biologis anak tersebut, dan memilih 'hidup bersama' dengan tunangannya Richard White (James Marsden), ketimbang jadi single parent, sesuatu yg sebenarnya mafhum saja berlangsung di masyarakat 'Barat'.
Mungkin Lois takut kalau siapa ayah biologis anaknya itu diketahui publik (dan/atau musuh-musuh Superman), bisa-bisa mereka jadi target untuk dihabisi, atau minimal disandera lah. Kalau Superman mah kayaknya emang dia asli ga tahu bila melakukan 'begituan' bisa menghasilkan produk yang namanya 'anak'. Yah biar wujudnya bak manusia, teteup saja dia seorang alien, yang di banyak film lain digambarkan bermata besar dengan kepala bak pentol korek dan tubuh tak proporsional, jadi ya perspektif dan persepsinya beda kali.
Jadi si Richard White, yang notabene keponakannya Perry White (Frank Langella), cuma jadi sekedar kedok belaka, biar orang tidak usil menanyakan Jason itu anak siapa (takut dikejar-kejar pewarta inpotenmen juga kali yak keh3x). Sementara si Lois mah cintanya belum pindah ke lain hati sebenarnya... Duuuuh malang bener sih nasibmu Dick!
Tapi yah begitulah namanya film. Selalu menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Bukan hanya dalam aspek teknologi pembuatannya, tapi juga aspek ceritanya sendiri.
Kalau dulu semasa saya kecil tahunya bila Lois Lane cuma bisa ciuman sama si jubah biru ini, sekarang sudah punya anak di luar nikah dan di luar sepengetahuan si ayah biologis sendiri. Mungkin dulu masyarakat AS masih rada konservatif, jadi digambarkan yg namanya cinta itu lewat adegan roman ala film Bolywood, sementara saat ini filosofi publik sudah berubah jauh dan yg namanya cinta itu diwujudkan melalui pengakuan atas anak biologis. Suatu hal yang sudah mulai merebak di masyarakat kita, terutama di Jakarta dan kota2 besar lainnya (ingat kasus Fany vs Taufik???).
Yah namanya juga film, sebuah produk budaya, jelas saja merepresentasikan budaya masyarakat di mana dia dibuat. Kalau Superman itu dibuat di Indonesia, mungkin ceritanya akan berbeda. Si Lois bukannya kumpul kebo sama Richard melainkan sudah menikah, tapi Lois tidak bahagia selama ini, apalagi ditambah dengan kemunculan laginya Superman.
Terus yg terjadi ya selingkuh lagi, jadi deh Lois Land TTM-nya Superman. Terus Superman dikejar-kejar pewarta inpotenmen untuk klarifikasi soal anak itu. Namun lantaran para wartawan maksa, si Superman terus nandukkin kepalanya ke kamera (mirip adegan Zidane vs Materazi di Final PD 2006 kemarin). Si pewarta tidak terima dan kasusnya diajukan ke pengadilan dan divonis 4 bulan penjara deh (kayak Sarah Azhari).
Eh belakangan malah muncul Kak Seto yang ditelpon si Jason lantaran merasa dicuekin sama ayahnya dan bermaksud mengadukannya ke Komnas Anak. Keh3x.
Namanya juga film fiksi bergenre drama, biar kata tokoh utamanya si manusia super, teteup suka-suka yang bikin naskah dunk. Mau dibikin persis seperti komiknya kek, mau dibikin persis seperti versi 1970annya kek, ya suka-suka mereka lah. Sama juga dengan keisengan saya mengubah jalan cerita jadi sinetron buanget barusan khan.... suka-suka gw dunk! Keh3x.
Genre: Drama
Eh Man, si Jason itu sebenarnya anak elo!
Begitu kira-kira bisik Lois Lane (Kate Bosworth) saat Superman (Brandon Routh) mengalami koma di RSU Metropolis (Superman Returns, 2006).
Gara-gara pernyataan itulah nampaknya Superman akhirnya sadar dan kabur dari RS untuk datang ke rumah Lois untuk menemui si Jason White (Tristan Lake Leabu) yang saat itu sudah tertidur, dan membisikinya dengan kata-kata yg pernah diucapkan ayahnya Jor-El (Marlon Brando) saat mengirimnya ke bumi.
Padahal kalau iseng ditelaah, sebenarnya Jason itu khan anak hasil hubungan gelap (baca: tersembunyi) antara dua insan beda dunia itu. Kenapa tersembunyi, lantaran Lois tidak mengumumkan siapa ayah biologis anak tersebut, dan memilih 'hidup bersama' dengan tunangannya Richard White (James Marsden), ketimbang jadi single parent, sesuatu yg sebenarnya mafhum saja berlangsung di masyarakat 'Barat'.
Mungkin Lois takut kalau siapa ayah biologis anaknya itu diketahui publik (dan/atau musuh-musuh Superman), bisa-bisa mereka jadi target untuk dihabisi, atau minimal disandera lah. Kalau Superman mah kayaknya emang dia asli ga tahu bila melakukan 'begituan' bisa menghasilkan produk yang namanya 'anak'. Yah biar wujudnya bak manusia, teteup saja dia seorang alien, yang di banyak film lain digambarkan bermata besar dengan kepala bak pentol korek dan tubuh tak proporsional, jadi ya perspektif dan persepsinya beda kali.
Jadi si Richard White, yang notabene keponakannya Perry White (Frank Langella), cuma jadi sekedar kedok belaka, biar orang tidak usil menanyakan Jason itu anak siapa (takut dikejar-kejar pewarta inpotenmen juga kali yak keh3x). Sementara si Lois mah cintanya belum pindah ke lain hati sebenarnya... Duuuuh malang bener sih nasibmu Dick!
Tapi yah begitulah namanya film. Selalu menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Bukan hanya dalam aspek teknologi pembuatannya, tapi juga aspek ceritanya sendiri.
Kalau dulu semasa saya kecil tahunya bila Lois Lane cuma bisa ciuman sama si jubah biru ini, sekarang sudah punya anak di luar nikah dan di luar sepengetahuan si ayah biologis sendiri. Mungkin dulu masyarakat AS masih rada konservatif, jadi digambarkan yg namanya cinta itu lewat adegan roman ala film Bolywood, sementara saat ini filosofi publik sudah berubah jauh dan yg namanya cinta itu diwujudkan melalui pengakuan atas anak biologis. Suatu hal yang sudah mulai merebak di masyarakat kita, terutama di Jakarta dan kota2 besar lainnya (ingat kasus Fany vs Taufik???).
Yah namanya juga film, sebuah produk budaya, jelas saja merepresentasikan budaya masyarakat di mana dia dibuat. Kalau Superman itu dibuat di Indonesia, mungkin ceritanya akan berbeda. Si Lois bukannya kumpul kebo sama Richard melainkan sudah menikah, tapi Lois tidak bahagia selama ini, apalagi ditambah dengan kemunculan laginya Superman.
Terus yg terjadi ya selingkuh lagi, jadi deh Lois Land TTM-nya Superman. Terus Superman dikejar-kejar pewarta inpotenmen untuk klarifikasi soal anak itu. Namun lantaran para wartawan maksa, si Superman terus nandukkin kepalanya ke kamera (mirip adegan Zidane vs Materazi di Final PD 2006 kemarin). Si pewarta tidak terima dan kasusnya diajukan ke pengadilan dan divonis 4 bulan penjara deh (kayak Sarah Azhari).
Eh belakangan malah muncul Kak Seto yang ditelpon si Jason lantaran merasa dicuekin sama ayahnya dan bermaksud mengadukannya ke Komnas Anak. Keh3x.
Namanya juga film fiksi bergenre drama, biar kata tokoh utamanya si manusia super, teteup suka-suka yang bikin naskah dunk. Mau dibikin persis seperti komiknya kek, mau dibikin persis seperti versi 1970annya kek, ya suka-suka mereka lah. Sama juga dengan keisengan saya mengubah jalan cerita jadi sinetron buanget barusan khan.... suka-suka gw dunk! Keh3x.
bioskop viva tebet
JIKA KITA membicarakan sinema dan kota Indonesia, mau tidak mau kota itu adalah Jakarta. Jakarta memang telanjur menjadi pusat segalanya, termasuk institusi dan produksi film. Ibukota ini menyimpan begitu banyak masalah, yang ironisnya, seringkali gagal direpresentasikan oleh film-film Indonesia. Jika film belum mampu mengenali dan mengatasi kota yang ditinggalinya sendiri, bagaimana kota-kota lain bisa terbahas? Dan bagaimana kemudian, film-film Indonesia menampilkan Jakarta? Bagaimana kenyataan ibukota ini sendiri memengaruhinya dari jaman ke jaman?
Dalam esainya kali ini, Eric Sasono, seorang kritikus film, membagi masa itu dalam empat kurun waktu. Pada 1970-an ketika perubahan Jakarta masih dicurigai sebagai monster besar yang akan menelan semua warganya; pada 1980-an ketika film mulai menerima sekaligus menolak Jakarta dengan parodi; pada 1990-an ketika film tak berdaya atas Jakarta; dan pada 2000-an ketika sedikit sekali film yang mau bersinggungan dengan Jakarta kecuali meminjamnya sebagai lokasi para arwah gentayangan.
Seperti tak mulusnya generasi film sebelumnya menggambarkan kehidupan masyarakat kelas atas, film Indonesia di masa 2000-an juga tak mulus menggambarkan kehidupan kelas bawah. Terjadi kecendrungan besar untuk menghilangkan sosial dari filmnya. Dalam esainya, Veronica Kusuma—seorang penulis, perancang program film, dan mahasiswi program studi Kajian Media Departemen Film, Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta, menyatakan: “Seperti juga kebanyakan film-film lain pasca 1998, film Mengejar Matahari datang hampir tanpa kritik terhadap visual ruang Orde Baru itu sendiri.”
Banyak hal yang mendukung berbagai perubahan cara pandang ini. Banyaknya stasiun televisi swasta yang menurunkan gairah menonton di bioskop—terutama di kota-kota kecil, Jaringan 21 yang menempel di mal-mal ibukota provinsi dan menciptakan jenis penonton baru: anak muda, yang selain mesti diasupi film-film hiburan, saat ini juga memiliki berbagai pilihan tontonan dari film-film DVD bajakan, dan juga festival-festival film dan video di berbagai kota. Film Indonesia bukan lagi pemain tunggal nasional dan harus memiliki strategi khusus untuk meraih penontonnya. Apapun strategi itu.
Kita juga bisa menilik perubahan pengalaman visual ini secara keseluruhan dari esai Ronny Agustinus, "Video: Not All Correct", yang kami muat kembali dari katalog pasca festival OK. Video 2003. Dalam esai yang membahas fenomena seni video dan media baru, budaya, serta teknologi visual yang melatarinya ini, Ronny membahas betapa kita memang mengalami “keterputusan antara seni modern dengan teknologi modern”. Bagaimana “gagasan-gagasan besar Eropa masuk ke Hindia Belanda sebagai ide tanpa landasan materialnya, sementara barang-barang teknologi Eropa masuk sebagai materi tanpa sejarah idenya.”. Hal ini berhubungan dengan bagaimana kita saat ini menyikapi modernitas tanpa rasionalitas. Modernitas akhirnya tidak bisa dipercepat dengan tinggal landas Orde Baru, dan hanya karena boom minyak pada akhir 1970-an, masyarakat kita mendadak merasa telah menjadi modern. Berbagai teknologi baru masuk, begitu juga komputer, CD musik dan perangkat lunak, VCD, DVD bajakan, sempat pula ada siaran tunda MTV diantaranya. Dan semua pengalaman visual inilah, beserta generasi muda yang mengalaminya, yang menjadi latar belakang tumbuhnya seni video di Indonesia. Bagi Ronny, sangat absurd dan mengada-ngada jika perkembangan seni video selalu dihubungkan dengan Nam Jun Paik, seperti yang banyak dipercaya para kritisi dan media massa, karena bagi Ronny, tanpa mengurangi rasa hormat pada apa yang telah dirintis Teguh Ostentrik dan Krisna Murti, ia berpendapat bahwa esensi seni video baru berhasil dicapai oleh generasi setelah mereka. “Generasi yang berbagi pengalaman visual yang sama.”, ujarnya, yang pada akhirnya membuat kita harus berpikir-kembali, atas cara pandang kita terhadap kesenian saat ini. Esai ini adalah esai pertama yang membahas seni video di Indonesia secara kritis dan tuntas dari sudut pandang budaya, teknologi visual, sosial, dan politik.
Untuk edisi ini pula, pada November 2007 lalu, ruangrupa dan jurnal Karbon bekerjasama dengan Kineforum, sebuah bioskop film alternatif di Jakarta, untuk mengadakan program "Sinema dan Kota". Program ini memutar tujuh film Indonesia sejak masa Orde Baru hingga kini; semua dari koleksi Sinematek Indonesia. Pemutaran selama 8 hari dengan 3 waktu penayangan setiap harinya ini dihadiri oleh 323 penonton. Selain pemutaran, program ini juga mengadakan diskusi. Dipandu oleh moderator Mirwan Andan dari ruangrupa, pembicara Eric Sasono dan Veronica Kusuma mempresentasikan esai mereka yang sekarang bisa Anda baca ini. Terima kasih kami untuk Lisabona Rahman, perancang program Kineforum, juga Arif, Petrus, dan Anita untuk kerjasamanya.
Dalam esainya kali ini, Eric Sasono, seorang kritikus film, membagi masa itu dalam empat kurun waktu. Pada 1970-an ketika perubahan Jakarta masih dicurigai sebagai monster besar yang akan menelan semua warganya; pada 1980-an ketika film mulai menerima sekaligus menolak Jakarta dengan parodi; pada 1990-an ketika film tak berdaya atas Jakarta; dan pada 2000-an ketika sedikit sekali film yang mau bersinggungan dengan Jakarta kecuali meminjamnya sebagai lokasi para arwah gentayangan.
Seperti tak mulusnya generasi film sebelumnya menggambarkan kehidupan masyarakat kelas atas, film Indonesia di masa 2000-an juga tak mulus menggambarkan kehidupan kelas bawah. Terjadi kecendrungan besar untuk menghilangkan sosial dari filmnya. Dalam esainya, Veronica Kusuma—seorang penulis, perancang program film, dan mahasiswi program studi Kajian Media Departemen Film, Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta, menyatakan: “Seperti juga kebanyakan film-film lain pasca 1998, film Mengejar Matahari datang hampir tanpa kritik terhadap visual ruang Orde Baru itu sendiri.”
Banyak hal yang mendukung berbagai perubahan cara pandang ini. Banyaknya stasiun televisi swasta yang menurunkan gairah menonton di bioskop—terutama di kota-kota kecil, Jaringan 21 yang menempel di mal-mal ibukota provinsi dan menciptakan jenis penonton baru: anak muda, yang selain mesti diasupi film-film hiburan, saat ini juga memiliki berbagai pilihan tontonan dari film-film DVD bajakan, dan juga festival-festival film dan video di berbagai kota. Film Indonesia bukan lagi pemain tunggal nasional dan harus memiliki strategi khusus untuk meraih penontonnya. Apapun strategi itu.
Kita juga bisa menilik perubahan pengalaman visual ini secara keseluruhan dari esai Ronny Agustinus, "Video: Not All Correct", yang kami muat kembali dari katalog pasca festival OK. Video 2003. Dalam esai yang membahas fenomena seni video dan media baru, budaya, serta teknologi visual yang melatarinya ini, Ronny membahas betapa kita memang mengalami “keterputusan antara seni modern dengan teknologi modern”. Bagaimana “gagasan-gagasan besar Eropa masuk ke Hindia Belanda sebagai ide tanpa landasan materialnya, sementara barang-barang teknologi Eropa masuk sebagai materi tanpa sejarah idenya.”. Hal ini berhubungan dengan bagaimana kita saat ini menyikapi modernitas tanpa rasionalitas. Modernitas akhirnya tidak bisa dipercepat dengan tinggal landas Orde Baru, dan hanya karena boom minyak pada akhir 1970-an, masyarakat kita mendadak merasa telah menjadi modern. Berbagai teknologi baru masuk, begitu juga komputer, CD musik dan perangkat lunak, VCD, DVD bajakan, sempat pula ada siaran tunda MTV diantaranya. Dan semua pengalaman visual inilah, beserta generasi muda yang mengalaminya, yang menjadi latar belakang tumbuhnya seni video di Indonesia. Bagi Ronny, sangat absurd dan mengada-ngada jika perkembangan seni video selalu dihubungkan dengan Nam Jun Paik, seperti yang banyak dipercaya para kritisi dan media massa, karena bagi Ronny, tanpa mengurangi rasa hormat pada apa yang telah dirintis Teguh Ostentrik dan Krisna Murti, ia berpendapat bahwa esensi seni video baru berhasil dicapai oleh generasi setelah mereka. “Generasi yang berbagi pengalaman visual yang sama.”, ujarnya, yang pada akhirnya membuat kita harus berpikir-kembali, atas cara pandang kita terhadap kesenian saat ini. Esai ini adalah esai pertama yang membahas seni video di Indonesia secara kritis dan tuntas dari sudut pandang budaya, teknologi visual, sosial, dan politik.
Untuk edisi ini pula, pada November 2007 lalu, ruangrupa dan jurnal Karbon bekerjasama dengan Kineforum, sebuah bioskop film alternatif di Jakarta, untuk mengadakan program "Sinema dan Kota". Program ini memutar tujuh film Indonesia sejak masa Orde Baru hingga kini; semua dari koleksi Sinematek Indonesia. Pemutaran selama 8 hari dengan 3 waktu penayangan setiap harinya ini dihadiri oleh 323 penonton. Selain pemutaran, program ini juga mengadakan diskusi. Dipandu oleh moderator Mirwan Andan dari ruangrupa, pembicara Eric Sasono dan Veronica Kusuma mempresentasikan esai mereka yang sekarang bisa Anda baca ini. Terima kasih kami untuk Lisabona Rahman, perancang program Kineforum, juga Arif, Petrus, dan Anita untuk kerjasamanya.
extreme
Saying I love you
Is not the words I want to hear from you
It's not that I want you
Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn't have to say that you love me
Cos I'd already know
What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you
More than words
Now I've tried to talk to you and make you understand
All you have to do is close your eyes
And just reach out your hands and touch me
Hold me close don't ever let me go
More than words is all I ever needed you to show
Then you wouldn't have to say that you love me
Cos I'd already know
What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you
More than words
Is not the words I want to hear from you
It's not that I want you
Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn't have to say that you love me
Cos I'd already know
What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you
More than words
Now I've tried to talk to you and make you understand
All you have to do is close your eyes
And just reach out your hands and touch me
Hold me close don't ever let me go
More than words is all I ever needed you to show
Then you wouldn't have to say that you love me
Cos I'd already know
What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn't make things new
Just by saying I love you
More than words
Langganan:
Postingan (Atom)